Tradisi Tumpengan dalam Perayaan HUT GKPI di Jemaat Binuang

1785479088609.jpg
Gambar: Tumpeng ( Siswanti ) Sumber: https://pamilau.krayantengah.my.id/

Perjalanan pelayanan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) yang terentang sejak 30 Agustus 1964 terus mengukir rekam jejak iman yang mendalam bagi seluruh jemaatnya. Di tingkat tapak, syukuran ulang tahun sinode maupun jemaat lokal kerap dirayakan melalui berbagai ekspresi budaya yang hangat dan kaya makna. Salah satu keunikan tersebut dijumpai di GKPI Jemaat Binuang, di mana tradisi menghadirkan serta memotong nasi tumpeng selalu menjadi momentum ikonik yang dinantikan dalam setiap perayaan HUT GKPI.

Tradisi pemotongan tumpeng ini hadir bukan sekadar sebagai pelengkap seremonial atau hidangan konsumsi semata, melainkan menjelma sebagai media teologis dan kultural yang sarat akan pesan filosofis bagi kehidupan bergereja:

  • Simbolisme Vertikal (Hubungan dengan Sang Pencipta): Sebagai warisan kuliner Nusantara yang berbentuk kerucut menyerupai gunung, bentuk tumpeng dimaknai oleh GKPI Jemaat Binuang sebagai simbol hubungan vertikal manusia dengan Allah Sang Pencipta (habonaron doona). Puncak tumpeng yang menjulang melambangkan Kristus sebagai Kepala Gereja yang menjadi pusat dan arah utama kehidupan seluruh jemaat.

  • Harmoni Keberagaman (Keseimbangan Horisontal): Aneka lauk-pauk yang ditata melingkar mengelilingi bagian bawah tumpeng menggambarkan keberagaman karunia, latar belakang, dan profesi anggota jemaat. Meski berbeda-beda, seluruh jemaat dipanggil untuk hidup berdampingan dalam keseimbangan dan harmoni. Keberagaman tersebut menyatu di atas satu dasar iman yang kokoh demi saling menopang dalam pelayanan gereja.

Bagikan post ini: