Tradisi Tumpengan dalam Perayaan HUT GKPI di Jemaat Binuang
Perjalanan pelayanan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) yang didirikan sejak 30 Agustus 1964 terus menyisakan rekam jejak iman yang mendalam bagi seluruh jemaatnya. Di tingkat tapak, perayaan ulang tahun sinode maupun jemaat lokal kerap dirayakan dengan berbagai ekspresi budaya yang unik. Salah satunya dapat dijumpai di GKPI Jemaat Binuang, di mana tradisi menghadirkan dan memotong nasi tumpeng telah menjadi agenda ikonik dalam setiap perayaan HUT GKPI.
Tradisi ini bukan sekadar pelengkap seremonial atau hidangan konsumsi semata, melainkan media teologis dan kultural yang sarat akan makna mendalam bagi kehidupan bergereja.
Secara historis, tumpeng merupakan warisan kuliner Nusantara yang memiliki bentuk kerucut menyerupai gunung. Bagi GKPI Jemaat Binuang, bentuk kerucut yang menjulang ke atas diadopsi sebagai simbol hubungan vertikal antara manusia dengan Allah Sang Pencipta (habonaron doona). Puncak tumpeng merepresentasikan Kristus sebagai kepala gereja yang menjadi pusat kehidupan jemaat.
Sementara itu, aneka lauk-pauk yang ditata melingkar di bagian bawah tumpeng melambangkan keberagaman karunia, profesi, dan latar belakang jemaat yang hidup berdampingan dalam harmoni dan keseimbangan. Keberagaman jemaat bersatu di bawah satu dasar iman yang kokoh untuk menopang pelayanan gereja.
Baca juga:
Dapur Bujang Bukan Sembarang Bujang
Dapur Bujang Bukan Sembarang Bujang